Monday, June 23, 2008


DAHULU MEREKA ADALAH RIJAL,
KINI MENJADI BUIH

Sungguh, da’wah ini tidak akan mengalami kerugian sama sekali dengan adanya da’i yang “berjatuhan” (futur,insilakh). Sebab, Allah Yang Maha Berkuasa atas segala sesuatu akan menggantikan mereka dengan kaum yang lebih baik, kaum yang siap berjihad fii sabilillah, dengan harta dan jiwanya. Janganlah mereka mengira, absennya mereka dari da’wah akan membuat da’wah goncang dan merasa kehilangan. Masih banyak abna’ul Islam yang antri untuk memperjuangkan agama ini dan meninggikan panji-panjinya. Allah SWT berfirman di dalam Al-Qur’an surat At Taubah ayat 38 dan 39:

Hai orang-orang yang beriman, apakah sebabnya bila dikatakan kepadamu: “Berangkatlah (untuk berperang) pada jalan Allah” kamu merasa berat dan ingin tinggal ditempatmu? Apakah kamu puas dengan kehidupan di dunia sebagai ganti kehidupan di akhirat?padahal kenikmatan hidup di dunia ini (dibandingkan dengan kehidupan) di akhirat hanyalah sedikit.

Jika kamu tidak berangkat untuk berperang, niscaya Allah menyiksa kamu dengan siksa yang pedih dan digantinya (kamu) dengan kaum yang lain, dan kamu tidak akan memberi kemudharatan kepada-Nya sedikitpun. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Imam Asy Syaukani dalam Fathul Qadir-nya menjelaskan bahwa ayat di atas, tidak ada perbedaan pendapat, turun ketika perang Tabuk tahun ke-9 hijriah, ketika banyak manusia yang berselisih tentang perintah Rasulullah SAW untuk berangkat ke Tabuk. Pada ayat 38, kalimat tanya “Apakah sebabnya jika dikatakan kepadamu..” merupakan pengingkaran dan celaan atas perilaku mereka yaitu merasa berat untuk berangkat (An Nafr). An Nafr adalah bertolak secara cepat dari satu tempat ke tempat lain karena adanya perintah. Apakah halangan itu adalah kenikmatan dunia? Padahal ia tidak seberapa dibanding dengan kenikmatan akhirat yang abadi. Ayat 39, kalimat Illa Tanfiruu (jika kamu tidak berangkat untuk berperang) merupakan peringatan yang keras dan ancaman yang amat serius atas orang-orang yang tidak mau An Nafr (berangkat berjihad) ke Tabuk bersama Rasulullah SAW. Pada kalimat selanjutnya Allah SWT menyampaikan bahwa Allah akan memberikan pengganti dari kalangan orang-orang yang tidak santai dan menunda-nunda panggilannya. Dan orang-orang yang tidak mau berangkat berjihad, sama sekali tidak memberikan kerugian kepada Allah dan RasulNya. Wallahu ‘alaa kulli syai’in qodiir (Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu), maksudnya adalah: diantara KekuasaanNya Dia mengadzab dan mengganti kalian dengan kaum yang lain.
Demikianlah, Allah SWT sangat mampu membuat rijal-rijal baru untuk menggantikan yang lama yang telah menjadi buih. Buih adalah benda yang amat ringan dan mudah terombang-ambing. Tentunya sudah tidak berharga. Kemudian, siapa dan bagaimana Rijal yang dimaksud? Apakah sekedar laki-laki sesuai dengan makna bahasanya? Tidak!! Rijal disini adalah rijal yang digambarkan oleh Al Quran, bahkan bukan monopoli kaum laki-laki, sebab secara nilai dan esensi bisa saja kaum wanita lebih “rijal” (baca:pejuang) dari kaum laki-laki.
1. Menepati janjinya kepada Allah SWT untuk mati syahid
Allah SWT berfirman dalam surat Al Ahzab ayat 33:
Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; Maka diantara mereka ada yang gugur, dan diantara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka tidak merubah (janjinya).
Ayat ini turun lantaran tekad seorang sahabat yakni Anas bin an-Nadhar Radhiallahu ‘anhu yang luput darinya perang Badr, sehingga ia tidak bisa berjihad bersama Rasulullah SAW saat itu. Ia berjanji akan ikut menemani jihad Rasulullah di uhud, dan ketika terjadi peperangan ia terbunuh dengan tujuh puluh luka tombakan, lalu turunlah ayat diatas (HR.Muslim). Kekuatan untuk menepati janji inilah yang membuat Anas bin an-Nadhar r.a. membuktikan respon spontan kepada Sa’ad bin Mu’adz tatkala pasukan mukmin terdesak oleh pasukan musyrikin di perang uhud dengan ucapannya: “Ya Sa’ad, Surga….!!aku mencium bau surga di bawah bukit uhud..” kemudian beliau maju menjemput syahid sehingga jenazahnya tidak dapat dikenali kecuali oleh saudara perempuannya lewat jari tangannya (Muttafaqqun ‘alaih, Riyadus shalihin-Kitab Al Jihad,hadits no.1317).
Rijal seperti ini tidak bisa diam walau sejenak, ia selalu bergerak bersama da’wah atau para da’inya. Ia sedih jika tidak bersama mereka, menangis jika ketinggalan kafilah da’wah.

2. Berjiwa Pemimpin
Inilah ciri rijalud da’wah selanjutnya. Bermental pemimpin, cerdas, kuat, terjaga, amanah, dewasa, bertanggung jawab, berani, siap menerima kritik, adil, melindungi, dan mengayomi. Walaupun sewaktu-waktu ia harus siap menjadi prajurit tanpa merasa direndahkan sebagaimana sang Saifullah Al Maslul (pedang Allah yang terhunus) : Khalid bin Walid Radhiallahu ‘anhu. Pengalamannya sebagai panglima perang tidak diragukan lagi, bahkan hampir setiap peperangan yang dipimpinnya selalu memperoleh kemenangan. Namun ketika posisinya sebagai penglima perang digantikan oleh sahabat yang lain, bahkan yang lebih junior, ia tetap taat dan tsiqoh. Itulah seorang kader da’wah sejati, stiap saat ia harus siap memimpin dan di saat yang lain juga siap untuk dipimpin.
Allah SWT berfirman dalam surat An Nisa ayat 34:
Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah memberikan nafkah dari hartanya…

Ayat ini merupakan ayat yang sharih (jelas) bahwa laki-laki adalah pemimpin bagi wanita, bukan hanya di dalam rumah tangga tetapi juga dalam jama’ah da’wah dan negara. Namun tidak bisa dipungkiri, bahwa tidak sedikit laki-laki yang bukan rijal!! Ia lebih lembek daripada tahu, dan lebih melempem dari kerupuk. Ini menjadi berita duka cita bagi kaum lali-laki. Juga tidak dipungkiri, tidak sedikit kaum wanita yang kuat bermental baja dan bernyali singa. Merekalah para mujahidah yang di tangannya lahir singa-singa da’wah seperti Fatih Farhat, Abdullah Azzam, Abdul Azis Ar Rantisi, Ma’mun Al Hudaibi, dan lain-lain. Merugilah para ibu yang tidak mampu membentuk pribadi-pribadi seperti mereka. Walau anda bukan pemimpin, tetapi di tangan andalah lahirnya para pemimpin dan pahlawan itu.

3. Selalu berdzikir kepada Allah
Rijalud da’wah, sesibuk apapun, tidak akan lepas darinya dzikir kepada Allah. Baik lisan atau hati, baik sendiri atau dalam keramaian, baik lengang ataupun sibuk. Berdzikir kepada Allah merupakan manifestasi dari mahabbatullah, sebab katsrotudz dzikri (banyak mengingat) merupakan salah satu tanda jatuh cinta kepada Allah SWT. Lebih dari itu, karena rijalud da’wah mengerti betapa dahsyatnya hari pembalasan. Allah SWT berfirman dalam surat An Nuur ayat 37:

Orang yang tidak dilalaikan oleh perdagangan dan jual beli dari mengingat Allah, melaksanakan shalat, dan menunaikan zakat. Mereka takut kepada hari ketika hati dan penglihatan menjadi guncang (hari kiamat)

Imam Asy Syaukani dalam Fathul Qadir-nya mengatakan: inilah sifat rijal, kesibukkan mereka dalam perniagaan dan jual beli tidaklah melalaikan mereka dari mengingat Allah. Dikhususkan perniagaan, karena ini adalah kesibukan yang paling besar bagi manusia. Adapun perbedaan at-tijaarah (perniagaan) dan al-bai’ (jual-beli), adalah kalau at-tijaarah aktivitas dagang bagi musafir, sedangkan al-bai’ adalah aktivitas dagang bagi orang yang mukim. Syahidul Islam Imam Hasan Al Banna Rahimahullah, berkata dalam wasiat pertama dari sepuluh wasiatnya: Qum ilash sholah mataa sami’ta an nidaa’ mahma takunuzh zhuruuf (Dirikanlah Sholat ketika engkau mendengar panggilannya, bagaimanapun keadaanmu). (Risalatut Ta’lim wal Usar). Responnya cepat terhadap hak ibadah, seperti: tepat waktu dan menjaga adab-adab rutinitasnya. Sehingga ia menjadi contoh bagi orang yang berinteraksi dengannya. Tanpa ia berda’wah secara lisanpun, manusia sudah bisa merasakan ajakan kebaikan melalui perilakunya.

4. Memakmurkan Masjid
Aktivitas rijalud da’wah selalu terpaut dengan masjid. Bukan semata-mata badannya, tetapi juga hati dan akhlaknya. Dimana ia berada, tidak pernah menanggalkan akhlak masjid yaitu Takwa. Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu, Rasulullah SAW bersabda tentang tujuh golongan yang akan mendapatkan naungan padi hari akhir dimana tidak ada naungan selain naunganNya,diantaranya: “…Rajulun qalbuhu mu’allaqotun fil masjid..” (seseorang yang hatinya terpaut dengan masjid). (HR. Muttafaq ‘alaih,Riyadush shalihin hadits no.376). Dari Abu Dzar dan Mu’adz bin Jabal Radhiallahu ‘anhuma, Rasulullah SAW bersabda: “Bertakwalah kalian dimana saja berada, dan ikutilah perbuatan buruk kalian dengan perbuatan baik, niscaya (kebaikan) itu akan menghapuskan keburukan, dan bergaullah dengan mnusia dengan akhlak yang baik” (HR. At Tirmidzi,hadits hasan,Arba’in An Nawawiyah-hadits no.18). Allah SWT juga berfirman dalam surat At Taubah 108:
Janganlah engkau melaksanakan shalat di masjid itu selama-lamanya. Sungguh, masjid yang didirikan atas dasar takwa sejak hari pertama adalah lebih pantas engkau melaksanakan shalat didalamnya. Di dalamnya ada orang-orang (rijal) yang ingin membersihkan diri. Dan Allah menyukai orang-orang yang bersih.

Itulah karakter rijalud da’wah; shidq terhadap janji untuk mati syahid, berjiwa pemimpin, banyak berdzikir dan terpaut dengan masjid. Namun, tidak sedikit orang-orang yang dahulunya rijal, sekarang hilang dari peredaran. Jangankan da’wah, shalat berjama’ah di masjid pun tidak. Sibuk dengan urusan dunia, mengumpulkan harta, mengejar target hidup yang tak pernah habis, bahkan berbalik menyerang da’wah.

Kebersamaan dengan mereka kini tinggal kenangan saja. Dahulu menangis bersama, dauroh, muzhaharah (aksi), mabit, syuro juga bersama. Kini? Dimanakah engkau wahai saudaraku??
Bisa jadi diantara mereka merupakan mu’assis (perintis) da’wah. Dialah yang membuka ladang da’wah pertama kali di tempatnya, dialah yang membangunkan manusia dari tidurnya, dialah yang banyak merekrut mujahid muda. Namun kini, dimana engkau wahai saudaraku?? Semoga Allah tidak menyia-nyiakan amalmu yang bermanfaat. Sebab, yang bermanfaat akan tetap tinggal di bumi. Adapun buih, pasti akan lenyap. Renungkanlah ayat ini:

Allah telah menurunkan air (hujan) dari langit, maka mengalirlah ia (air) di lembah-lembah menurut ukurannya, maka arus itu membawa buih yang mengambang. Dan dari apa (logam) yang mereka lebur dalam api untuk membuat perhiasan atau alat-alat, ada (pula) buihnya seperti (buih arus) itu. Demikianlah Allah membuat perumpamaan tentang yang benar dan yang bathil. Adapun buih, akan hilang sebagai sesuatu yang tidak ada gunanya; tetapi yang bermanfaat bagi manusia, akan tetap ada di bumi. Demikianlah Allah membuat perumpamaan.



(Disarikan dari tulisan Ust.Farid Nu’man)

No comments: